Ingin keluar jalan-jalan
Aku telah membuat kesalahan yang agak tidak patut hari ini. Siap ditemani oleh hommie lagi. Tapi yang pasti, sungguh aku tidak mampu untuk menumpukan perhatian pada kerja hari ini. Aku hampir-hampir sahaja memohon untuk bercuti separuh hari tapi tidak jadi.
Betul kata kamu, aku sudah tidak menjadi diriku sendiri lagi. Aku sampai tega mengatakan, aku kecewa apabila di waktu sekarang aku gagal menjadi diri sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak ingin menjadi perempuan yang bijak. Tapi sungguh, untuk menjadi tidak luar biasa amat susah buatku. Apa patut aku buat? Aku serabut, runsing dan asyik menangis sahaja.
Aku ingin keluar jalan-jalan. Aku ingin sahaja terbang ke Perhentian, mandi laut, berjemur sampai hitam dan berbual-bual dengan orang di sana. Aku perlukan ruang yang luas, sebab aku sesak dengan situasi yang sempit sekarang.
Hari ini sudah tengok wayang. Keluar wayang sahaja, terus aku berpengutus teks pada tiga jejaka hensem, ya kamu (Mr. Shaggy), kamu (Mr, orO) dan kamu (Amirez), mengenai filem yang baru aku tonton itu. Mengapa perlu berpengutus teks pada mereka? Sebab manusia-manusia ini, antara golongan yang aku suka dengar pendapatnya. Hurmm..Mungkin esok aku akan jalan-jalan membeli buku baru. Ya, aku akan buat begitu esok. Aku akan jalan-jalan ‘window shopping’ sampai letih. Dan mungkin, aku akan ke Serendah selepas itu, berjumpa dengan ayah, emak dan 3 orang kanak-kanak ribena pengubat jiwaku itu.

kan besh kalau achik ada juga
Kalian, kakak tidak gembira. Kakak perlukan kalian.

kalau tak sempat, aku sanggup amik cuti
Suna dan Arief jua, aku rindukan kalian.
p/s: Arief, kek coklat tau eheh ;-p
Qider Firdaus Bukit Jalil
p(^_^)q
gambaru!
The Movie : Terminator Salvation

- Terminator Salvation
As soon the movie finished and as I walked outside with the rest of the audience, only this struck me, ‘a very disturbing story’. Yeah, my hommie wept a bit (hey, I noticed ya..huhu) at the ending part, but I felt that it was not much exciting. Perhaps, I already had enough with it’s-the-judgment-day-and-we’re-fighting-machines kind of story. The Matrix, I might give the credit, but this movie..naahh, you might want your money back.
The sound effects, suspense and action packed were as expected from Hollywood movie. I was scared during the ‘surprises’ here and there, still I stuck with my statement:
Terminator Salvation : a very disturbing story
If star have to be given here, I recommended 3.
I found this movie, not much interesting. How about you guys?
I am more looking forward to Transformers : The Revenge.
Wishing it’ll be more fascinating than Terminator.
Qider Firdaus Bukit Jalil
p(^_^)q
gambaru!
Why I write in the first place?
I want to update about my Cuti-cuti Malaysia at Perhentian Island weeks ago but since the laptop (the material is in the laptop, I am using desktop right now) was borrowed for Humidity Sensor’s Testing (for quite few days mind you..*sigh), so the entry is pending again. As I must update at least sumthing here, so here goes thing that had been in my mind long enough. I write this to those who’ve been with me until now, my whole life.
I love language. From my love towards language, comes my liking to read. When I read and understand what I read, I tend to discuss (speak) what I read, and the person who encouraged me to do so is my beloved dad. He, after all, is the first person who taught me the value of talking informatively. Then when I started my secondary, I began to diary writing. I wrote it in English as so to avoid my siblings reading them. The diaries full of emotions, what I did that day and things I wanted to remember my whole life. When I lost the affection of writing diaries and started blogging, I realized I must benefit myself and others fully using this platform.

I really don't want to think..
So, I come to this question, why I write in the first place? First of all, this actually the archive for my siblings, my family, my future husband and future kids to know who actually Qider Firdaus is. Why she love to be different from others? Why she seems to think fully of herself all the time? Why she talks a lot about her siblings like 24/7? Why she pride having few girlfriends and boyfriends? Why she so much to be independent? What actually she had in her head? And a lot more questions why she like this and like that. So please, to whom it may concern, make the full use of all the entries here.
I didn’t write to show that I am so intelligent because I read Time (sekarang dah tak boleh baca), Newsweek whatever and how by reading Dewan Ekonomi can calm me down. I know it sound ridiculous (”..reading a very analytic magazine can calm her down? Get real!” One might say that). But honestly, I just want to be a human. Human being who have been gifted with brain by her Creator. I want to exercise my brain and to be sure on how to guide my thinking positively. So that, I will less jump to the worst conclusion and be fully happy with my life even though I don’t like the recent situation.
I really want to know what my siblings have to say about me. Do they love to have me around? Do they really felt hurt with my ‘spice’ words? So, another reason that I write is because this is actually the medium for me to express how much I love all of them, how much they meant to me and I proud having them in my life. How I still remember moments I spent with them. What we usually did. Even though they are all grown ups now, I still want to cling to them and involved in mimicking manga that we love to read. Also my lil’ brother who prefer playstation than manga, my concern towards him never waver from the moment I learnt that my mum had a baby boy instead of baby girl. How much far the distance, how much less the communication, I care for you guys happiness more than mine.
I wrote about religion (and my experiences wif non-Muslims) not to show I am so solehah or ‘alim’ or because I used to be the religion-based school’s student, but I want to share about what I understand and clear some wrong presumption from others. I love reading what Ust Hasrizal, Ust Pahrol and Sis Zabrina (just to name a few) write. It is not because they ‘sound’ like me, but they’re so inspiring. I want to be like that, inspires people, make people feel good bout their life and their ownself. When I behave unlikely, which meant to say, not what your first judgment bout me, please bear in mind, I am just a human being. I can’t help myself not to do wrong things. Please correct me when I am wrong. Please explained to me and asked why I do so. Please, see me as a human, not somebody who too perfect to do such silly mistakes.
Like one of my college pal ever said to me, he loves reading things that I wrote bout my life because seems that I live a very interesting life. It really encourages me to write more and to say this to him:
‘It’s not that I had a very interesting life, but it is me who think and make my life interesting despite of so many spiteful moments’
One last reason why I write, is for you out there, finding your own stories, your own happy moments in my stories etched in every entries. Everyone deserves having his/her own happiness but then the happiness start with the person itself. When you love your life, when you love yourself, it shows within you and you know it, don’t you?
p(^_^)q
gambaru!
Aku tidak boleh menulis
Setiap orang Islam (bukan Islam pun) mahukan mati dalam keadaan husnul-khotimah (pengakhiran yang baik). Tetapi kalau direnungkan, amalan kita yang manakah dapat menjamin pengakhiran yang baik itu? Memikirkan mati pun sudah membuatkan kita kecut perut, apatah lagi ditambah dengan penyesalan terhadap segala perkara-perkara larangan yang pernah kita lakukan dahulu. Manusia memang begitu, lagi dilarang, itulah yang ingin dicubanya. Apabila kesan buruk dari perbuatan itu mula timbul, barulah penyesalan datang bertimpa, ’sudah terhantuk baru tengadah’.
Bermula dari bangun tidur tadi, berjalan ke tempat letak kereta sehinggalah sekarang aku masih terfikir, aku ingin sahaja mati. Aku sudah tidak larat lagi dengan dugaan di dunia ini. Aku sudah penat untuk kalah lagi dalam mujahadahku untuk menjadi waras. Sudah letih untuk bangun untuk hari itu dan berasa menyesal untuk kesekian kalinya. Aku rasa hatiku sudah hitam. Pandanganku jadi sempit dengan kurangnya penggunakan akal. Walaupun sudah banyak peringatan yang aku baca, aku dengar dan aku belajar dahulu, aku bagaikan tidak faham mengapa aku masih boleh kalah dengan mujahadahku. Seolah-olah aku ini ‘ada ilmu tapi tidak amal’. Ataupun ‘penggoda-penggoda’ disekelilingku ini berpangkat jeneral?(chewwaahh..macam dia itu wali je)
Hati aku rasanya sudah hitam. Berat rasanya menanggung penyesalan yang tidak habis-habis. Bertambah gerun memikirkan amarah Dia yang Maha Kuasa di Arasy itu. Tapi meminta ingin mati hanya membuatkan Dia lagi marah saja padaku. Meminta mati menunjukkan aku sudah putus harapan untuk hidup. Bermakna aku sendiri sudah putus asa dengan rahmatNya. RahmatNya? Sungguh aku ini hambaMu yang hina.
Aku inginkan permulaan yang baik. Permulaan yang diredhai. Tapi aku masih leka membiarkan diriku kalah dengan mujahadah menentang nafsu. Membiarkan diri sendiri terjebak ke ‘lembah’ yang Dia tidak redhai. Aku ingin kembali menulis sesuatu yang dapat menginspirasikan orang lain seperti dulu. Tapi aku tidak boleh. Aku tidak boleh menulis dengan hati yang kelam dengan dosa.
..Carilah hatimu di tiga tempat..Temui hatimu sewaktu bangun membaca Al-quran. Jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan solat. Jika tidak kau temui juga, kau carilah hatimu ketika duduk bertafakur mengingati mati. Jika kau tidak temui juga, maka berdoalah kepada Allah, pinta hati yang baru kerana hakikatnya pada ketika itu kau tidak mempunyai hati!.. (Imam Ghazali)

AKU TIDAK BOLEH LAGI MENULIS DENGAN JUJUR SEPERTI DULU. Itu kenyataan yang sangat menyesakkan dada dan kepalaku. Dan aku rasa mahu rebah dan menangis.
Qider Firdaus Bukit Jalil
p(^_^)q
gambaru!
Aku memang surely Mrs. Van de Kamp
Aku tahu aku tidak berhak untuk marah. Malah aku tidak layak pun, sebab semuanya memang salah aku. Totally my fault. Fine then. Tapi apa yang aku minta dari kamu cuma sedikit pengertian dan peluang untuk aku membuat penjelasan. Besar sangatkah permintaan aku itu?

memandang...
Aku kenal kamu sudah bertahun. I prized you more than any person in my life, and you know it, tapi begini kamu buat pada aku? Sampai hati kamu. Dan aku akan ulang apa yang aku tulis dalam mesej pada hari itu. I thought you are my friend, my bestfriend. I thought among others, you wud understand me better. But maybe, I thought wrong. Kamu juga tahu, aku tidak akan bersusah payah untuk memberi penjelasan pada seseorang jika orang itu tidak penting dalam hidup aku. Kamu juga tahu aku boleh jadi sangat kejam when I want to.
Tapi aku tidak mahu berlaku kejam pada orang yang selama ini aku sayang. Yang aku bersusah payah menjaga hatinya. Yang aku sanggup buat apa sahaja untuk menebus kesalahanku terhadapnya. Kamu sebahagian dari hidup aku. Kamu susah hati, kamu sedih, aku berlebih-lebih lagi susah hati dan sedih apabila kamu begitu. Aku cuba untuk menjadi seorang yang dapat memberi semangat pada kamu, cuba menjadi seseorang yang terbaik dalam hidup kamu.
Aku tahu (mungkin aku tidak tahu, tapi dapat merasa) kamu sedang kusut terhadap perkara lain. Sedang marah tentang perkara lain. Aku minta maaf sebab berkasar pada kamu. Tapi satu pinta aku pada kamu, jangan cuba tutup diri kamu dari orang lain. Itu yang kamu buat sekarang. Apabila kamu menolak untuk mendengar penjelasan seseorang, maka kamu telah menutup segala peluang untuk kamu merasa lebih gembira. Kamu tidak dengar penjelasan orang yang buat salah itu (iaitu aku), kamu buat assumption yang menyakitkan hati kamu dan mengguris hati aku, jadi kamu menjadi bertambah-tambah sedih dari yang sepatutnya.
Aku selalu pesan pada kamu (dan mengingatkan diri sendiri juga) jangan cepat jump to the worst conclusion. Setiap perkara, semuanya ada penjelasan, termasuklah kenapa Allah temukan kita dan jadikan kita kawan baik. Kamu tahu, aku adalah orang yang paling cepat hilang sabar dengan perempuan (juga lelaki yang berperangai seperti perempuan), tapi aku tidak begitu dengan kamu. Tidak cukupkah itu sebagai bukti yang kamu itu penting dalam hidup aku?

Bree
Aku memang surely Mrs Van de Kamp. Yang membuat dan berlagak seolah-olah tiada apa yang berlaku. Yang sentiasa berusaha membuat yang terbaik untuk orang-orang yang aku sayang. Kamu mungkin berasa marah apabila membaca entri ini, dan jika betul kamu merasa begitu, aku minta maaf kerana kata-kata ini mengguris lagi hati kamu. Aku minta maaf kerana buat kamu sedih. Mungkin aku bukan kawan yang baik terhadap kamu.
Qider Firdaus Bukit Jalilp(^_^)q
gambaru!
Comments(8)
Comments(5)
Comments(5)